Salut! Begini Kisah Heroik Seorang TNI Saat Selamatkan Motor Warga di Aksi Massa 22 Mei

(Tribunnews.com)

Sebanyak 15 anggota TNI dari Komando Strategi Angkatan Darat Jakarta Pusat menyelamatkan kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat yang terparkir di sekitaran Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Belasan anggota TNI tersebut melakukan aksi heroiknya dengan menyelamatkan puluhan motor dan mobil milik warga ke dalam sebuah lahan kosong tepat di samping Restoran Abuba Steak di tengah panasnya kerusuhan yang terjadi malam tadi.

Salah seorang anggota TNI dari Batalyon Kaveleri 1 Tank Komando Strategi Angkatan Darat Serda Dedi Iswanto menyampaikan bahwa motor-motor dan mobil di sekitaran Jalan Wahid Hasyim tersebut tercecer di jalan saat massa mulai mengamuk.

 

(Tribunnews.com)

 

“Jumlahnya enggak terhitung cukup banyak ya, anggota ada 15 sebagian nyelamatin motor,” ujar Dedi kepada wartawan, Kamis (23/5)

Dedi mengatakan kendaraan roda dua tersebut hampir menjadi bulan-bulanan massa. Namun, sejumlah warga meminta aparat TNI untuk dapat mengamankan.

“Warga bilang ini tolong pak diamankan, akhirnya kami gotong ke dalam sini (lahan kosong,” tambahnya.

Proses penyelematan sejumlah kendaraan warga itupun berlangsung cukup heroik, lantaran situasi tengah memanas baku tembak antara petugas dan demonstran berlangsung. Para anggota TNI berjibaku dengan asap gas air mata, petasan demonstran batu hingga peluru.

 

(Tribunnews.com)

 

“Ya memang lagi di tengah-tengah massa yang lempar-lemparan itu, kami langsung selamatkan,” ujarnya.

Salah satu pemilik motor Honda Vario B 3375 UDT bernama Kiki Budi Hartawan yang memarkir kendaraannya di Pospol Sabang mengaku berbahagia motornya berhasil diselamatkan petugas.

Pasalnya, Kiki mendapatkan informasi yang menyatakan bahwa motornya telah dibakar massa tadi malam.

“Alhamdulillah masih rejeki, ternyata info yang beredar itu salah, awalnya saya percaya bangat karena kondisi pospol kebakar, karena ingin mencaritahu bangkai motor, saya menyisir Jalan Wahid Hasyim, ternyata motor saya diamankan petugas TNI,” tandasnya.

 

 

Sementara itu, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan pemerintah sudah mengetahui dalang di balik aksi kerusuhan 22 Mei 2019.

“Kami sebenarnya sudah mengetahui dalang aksi tersebut dan aparat keamanan akan bertindak tegas,” kata dia.

Mantan Panglima ABRI itu mengatakan berdasarkan rangkaian peristiwa hingga kerusuhan pecah, pihaknya melihat ada upaya membuat kekacauan nasional. Hal itu, kata dia, terlihat dari pernyataan tokoh-tokoh yang kemudian menyalahkan aparat keamanan atas jatuhnya korban jiwa. Wiranto melihat ada upaya membangun kebencian hingga antipemerintah.

Padahal, kata dia, ada aksi brutal yang dilakukan kelompok lain selain pengunjuk rasa yaitu kelompok preman bayaran.

 

(Kompas.com)

 

“Mereka menyerang petugas, merusak asrama Polri di Petamburan, membakar sejumlah kendaraan, dan aksi brutal lain,” ujarnya.

Ia juga menduga ada skenario sehingga pemerintah memastikan melakukan investigasi terhadap kerusuhan 22 Mei.

“Ada niatan atau skenario untuk membuat kekacauan dengan menyerang petugas, membangun antipati pemerintah dan membangun kebencian pemerintah yang sedang melakukan upaya kesejahteraan,” tutur Wiranto.

Polisi membenarkan bahwa kerusuhan 22 Mei telah dirancang.

“Bukan peristiwa sponta tapi by designed, setting-an. Diduga massa ‘setting-an, massa bayaran untuk menciptakan rusuh,” kata Kepala Divis Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal M Iqbal.

Soal massa bayaran itu polisi menduga dari amplop yang mereka temukan dari perusuh itu. Ada uang sebesar Rp 6 juta yang disita polisi.

 

 

“Ditemukan di mereka, amplop berisikan uang totalnya hampir Rp6 juta, yang terpisah amplop-amplopnya. Mereka mengaku ada yang bayar,” kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menguatkan indikasi tersebut.

Menurut Juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono uang itu digunakan untuk operasional para perusuh. Uang yang dimasukkan ke dalam amplop itu menurut Argo sudah bertuliskan nama-nama yang diduga pelaku kerusuhan.

Argo mengatakan kerusuhan ini diduga telah direncanakan karena para perusuh juga telah menyiapkan beberapa peralatan untuk menyerang petugas.

“Batu dan busur sudah tertata di pinggir jalan, jadi massa yang datang sudah siap, siapa yang menyiapkan barang sedang kami cari,” katanya.

Kerusuhan 22 Mei terjadi setelah massa pro Prabowo berunjuk rasa di depan Bawaslu pada Selasa, 21 Mei 2019. Massa pengunjuk rasa sudah pulang sejak pukul 21.00. Namun sekitar pukul 23.00 kericuhan terjadi karena ada sekelompok massa yang masih berada di sekitar Bawaslu.

 

(Tribunnews.com)

 

Polisi terlibat saling serang dengan para perusuh itu hingga Rabu, 22 Mei 2019 subuh. Enam orang disebut meninggal dalam kerusuhan tersebut sementara 200 orang lainnya terluka. Massa pro Prabowo yang menamakan diri Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) kembali berunjuk rasa di Bawaslu pada 22 Mei. Sekelompok kecil massa baru bubar pada Kamis subuh tadi.

Meski demikian, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko meyakini biang Kerusuhan 22 Mei itu bukan dari kelompok pendukung pasangan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *