Jelang Sidang Perdana MK, Kominfo akan Batasi Sosial Media?

twitter.com

Jelang sidang perdana MK terkait persoalan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum, akankah Kominfo kembali batasi akses sosial media seperti yang terjadi pada 22 mei lalu? Seperti yang diketahui sidang perdana MK akan digelar pada 14 Juni mendatang.

Kementerian Komunikasi dan Informatika belum akan membatasi akses media sosial di sidang gugatan Pilpres Prabowo Subianto – Sandiaga Uno di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jumat (14/6) pekan ini. Menkominfo Rudiantara menilai itu jadi putusan terakhir.

Rudiantara menjelaskan pembatasan media sosial merupakan keputusan terakhir setelah mempertimbangkan berbagai faktor. Salah satunya penyebaran masif konten hoaks selama aksi 22 Mei yang berakhir rusuh.

“Belum tahu,” kata Rudiantara, usai acara silaturahim dengan pegawai Kominfo, Rabu (12/6).

Berdasarkan data Kominfo ada sekitar 600 URL per hari yang digunakan untuk menyebarkan konten hoaks maupun negatif yang berkaitan dengan aksi 22 Mei.

“Kontennya memang menghasut masyarakat,” kata Rudiantara.

Keputusan pembatasan media sosial, seperti yang terjadi pada Mei lalu, merupakan hasil koordinasi dengan beberapa kementerian lain, salah satunya Kementerian Polhukam.

Plt Kepala Biro Humas Kominfo, Ferdinandus Setu, menyatakan saat ini kementerian siaga untuk melihat situasi di media sosial, apakah ada peningkatan konten-konten yang bersifat menghasut dan memecah belah seperti Mei lalu.

“Itu (pembatasan medsos) pilihan terakhir sekali, sifatnya situasional. Melihat konten, persebarannya dan jumlahnya,” kata dia.

Pantauan Kominfo terhada hoas di media sosial antara lain dengan memanfaatkan mesin AIS, untuk mendeteksi sebaran dan jumlah konten.

Menkopolhukam Wiranto sebelumnya menyatakan tidak ada pembatasan akses ke media sosial saat sidang sengketa hasil Pemilu 2019, yang akan berlangsung pada 14 Juni hingga 28 Juni.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menetapkan isu simbol illuminati masjid Al Safar rancangan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil adalah hoaks.

“Hoaks illuminati kita sudah berikan statement, jadi dari hari Minggu (9/6) sudah distempel hoaks. Informasi tersebut tidak benar dan sudah ada klarifikasi langsung dari pak Ridwan Kamil,” kata Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Ferdinandus Setu, di kantor Kominfo, Jakarta, Rabu (12/6).

Pria yang akrab disapa Nando ini juga mengatakan bahwa Ridwan telah memberikan keterangan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk merancang masjid Al Safar itu mirip illuminati.

“Memang Pak Ridwan Kamil yang arsitektur, dia ingin membuat desain masjid yang berbeda-beda. Pengembangan yang model segitiga itu adalah cara baru beliau untuk konsep yang diambil dari berbagai arsitektur dunia, itu beliau sampaikan dan kami sudah nyatakan itu [hoaks],” ujarnya.

Dilansir dari laman resmi Kominfo, isu rancangan masjid illuminati yang menimpa Emil, sapaan Ridwan Kamil, sudah ditetapkan sebagai informasi hoaks oleh Kominfo yang telah dikeluarkan pada Minggu (1/6). Kominfo menjelaskan bahwa konsep yang diusung Emil merupakan metode mencari kekayaan geometri baru yang digunakan di masjid Al Safar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *