Sekelumit Cerita dari Balik Rutan Cipinang

Tampak Depan Rutan Cipinang (Sumber Foto : instagram.com/rutancipinang)

Berbicara soal Penjara memang menjadi hal yang menakutkan. Penjara identik dengan orang yang melanggar hukum. Biasanya para pelanggar hukum akan di masukkan kedalam Rumah Tahanan atau yang biasa kita sebut Rutan sebagai hukuman yang harus mereka terima. Penjara juga punya peran penting dalam sejarah lika – liku berdirinya negara Indonesia, yang memiliki masa-masa pahit tatkala Belanda dan Jepang mencoba menguasai bumi pertiwi.

Ahmad Dhani, musisi sekaligus politikus kini mendekam di Rutan Cipinang. Selain Ahmad Dhani, segelintir orang penting juga mendekam di Rutan Cipinang, diantaranya Saipul Jamil dan Fariz RM hingga Jero Wacik dan Nazaruddin yang tersangkut kasus dengan KPK.

  1. Sudah Menjadi Tempat Pembinaan Sejak Zaman Belanda
Kenampakan Rutan Cipinang (Sumber Foto : instagram.com/rutancipinang)

Tahu kah kamu jika Rutan Cipinang sudah menjadi tempat pembinaan bagi warga bersalah sejak zaman Belanda? Sebagai negara yang dijajah Belanda, hidup pribumi sejak dulu telah diatur dalam undang-undang khusus yang pasal-pasalnya tertuang dalam buku Wetboek van Strafrecht voor de Inlanders in Nederlandsh Indie. Isinya mengatur hukum pidana bagi pemberontak, terutama orang yang inginkan Indonesia merdeka.

Menjadi salah satu penjara yang dihuni banyak pribumi, dahulu dikenal dengan nama Tjipinang. Belanda memperkejakan paksa, lengkap dengan rantai di kaki atau tangan. Sistem rantai akhirnya berubah setelah Belanda pada 1918 kerja paksa dihapuskan. Suasana di dalam tempat tersebut menjadi lebih sejuk karena terpidana dibina secara moral.

Menurut catatan Direktorat Jendral Permasyarakatan, di penjara Cipinang pada tahun 1944 setidaknya ada 25 orang meninggal dunia perharinya karena sakit malaria, busung lapar, hingga disentri.

2. Rutan Cipinang dibangun Pemerintah Kolonial Belanda

Rutan Cipinang Pada Malam Hari (Sumber Foto : Instagram.com/rutancipinang)

Penjara ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa Kebangkitan Nasional Indonesia untuk memenjarakan pemimpin-pemimpin nasionalis seperti Muhammad Hatta. Setelah kemerdekaan Indonesia, novelis Pramoedya Ananta Toer ditangkap pada tahun 1961 dan dipenjarakan di Cipinang selama hampir satu tahun tanpa proses pengadilan karena mengkritik kebijakan anti-Tionghoa pemerintahan Presiden Soekarno.

Pasca Indonesia merdeka penjara bisa dirasakan lebih manusiawi oleh para penghuninya. Peraturan dalam Rumah Tahanan kita lebih mendidik dan memberikan bantuan moral untuk memperbaiki diri serta kualitas hidup. Kini, Rutan CIpinang dihuni oleh 4000 tahanan dengan kapasitas sel 1500 tahanan.

3. Kerusuhan di Rutan Cipinang

Para Pegawai Rutan dan Napi di Rutan Cipinang (Sumber Foto : instagram.com/rutancipinang)

Kerusuhan yang mengakibatkan dua napi meninggal dunia ini terjadi pada 20 Juli 2001. Alasannya sangat sepele yakni perbedaan jatah makan antar penghuni rutan. Napi yang tak terima menyulut keributan antar Blok N dan K.

Sebenarnya, kerusuhan di Rutan Salemba tak hanya sekali. Di rutan tersebut kerap didapati kasus kriminal yang melibatkan penghuni rutan. Terakhir di bulan Februari 2016, terdapat penusukan dari Blok G. Korban meninggal dunia karena kehabisan darah.

Setelah 2001 kerusuhan di Rutan Cipinang kembali terjadi. Kerusuhan kembali terjadi pada 31 Juli 2007. Saat itu geng napi asal Jawa Timur bentrok dengan geng Ambon, Medan dan Palembang. Pertikaian tersebut melibatkan ratusan napi di sana.

Pembentukan geng di dalam lapas disinyalir menjadi sumbernya. Masalah lain yakni kapasitas lapas yang melebihi batas. Lapas yang seharusnya dihuni 1500 orang menjadi 4000 orang.

4. Keseharian Para Napi

Para Napi Melakukan Senam Pagi di Rutan Cipinang (Sumber Foto : instagram.com/rutancipinang)

Narapidana atau biasa disebut dengan Napi merupakan  terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di dalam lapas. Biasanya mereka adalah orang – orang yang berbuat kejahatan dan sedang menjalani masa hukuman.

Adalah Dedi, seorang Tukang Ojeg korban salah tangkap yang pernah mendekam selama 10 bulan di Rutan Cipinang. Dedi menuturkan sehari – hari ia dan para napi lain mandi menggunakan air bekas cucian piring. Piring yang kotor biasanya direndam dalam ember dan airnya akan menjadi air untuk mandi para napi.

Selain itu, para napi juga punya julukan makanan bagi hidangan yang tersedia disana. Diantaranya ada “Tempe Mayat”, “Ketupat Bubur” dan “Ikan Indosiar”. “Tempe Mayat” merupakan hidangan tempe goreng dengan warna kekuningan tetapi hambar alias tidak memiliki rasa, sedangkan “Ketupat Bubur” merupakan Ketupat yang dibagikan saat lebaran tetapi tidak menyerupai ketupat alias saat bungkus ketupat dibelah nasi dari ketupat berserakan.

Sekelumit kisah dari balik jeruji Cipinang membuat kita sadar apa yang sudah dibangun oleh para pahlawan kita dulu, kemerdekaan yang telah diraih jangan kita buang begitu saja termasuk kemerdekaan untuk diri sendiri. Jangan gampang bertindak yang merugikan diri, orang lain serta bangsa dan negara.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *