Rebutan Jatah Menteri, CSIS: Jokowi Bisa Lakukan Fit and Proper Test Seperti Era SBY

Jokowi dihimbau agar bisa meniru gaya Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam memilih menteri kabinetnya. Dalam hal itu Jokowi disarankan agar melakukan fit and proper test terhadap calon kabinetnya. Bisakah?

Peneliti dan pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menganggap Presiden Joko Widodo bisa meniru langkah Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melakukan fit and proper test terhadap calon menteri kabinetnya.

“Jika ingin membentuk komposisi menteri, Presiden Jokowi bisa membentuk tim terbatas dan melakukan fit and proper test seperti era SBY kepada calon menteri,” ujar Arya kepada Kompas.com, Jumat (12/7/2019).

Dengan melakukan fit and proper test, lanjutnya, Presiden Jokowi bisa menganalisa kompetensi, kecocokan, pengalaman, dan loyalitas calon menteri. Peneliti CSIS Arya Fernandez saat merilis hasil survei di Jakarta, Kamis (28/3/2019).

“Jadi Jokowi tentu harus memiliki prioritas, bargaining yang kuat ketika akan kompromi dengan partai yang menyodorkan nama menteri,” paparnya kemudian.

Ia menjabarkan, fit and proper test ala SBY bisa ditiru dengan formula yang berbeda. Contohnya, dengan melibatkan lembaga eksternal atau membentuk tim khusus dan wawancara yang dilakukan Presiden Jokowi kepada calon menterinya.

Dirinya meyakini Presiden Jokowi tidak akan hanya menerima calon menteri yang tidak diseleksi terlebih dahulu. Arya pun menekankan agar Jokowi juga menyeleksi secara ketat calon menteri dari partai politik. “Masak untuk pos kementerian Jokowi hanya terima jadi. Nah, ini harus dilakukan seleksi juga, kalau terima barang jadi kan kita enggak tahu kualitasnya seperti apa,” ungkapnya.

Seperti diketahui, pada era pemerintahan SBY di periode 2009-2014, SBY melakukan fit and proper test terhadap calon menteri kabinetnya. Kala itu, SBY harus memilih menteri dengan pertimbangan yang akuntabel dan kredibel serta bisa bertanggungjawab kepada rakyat.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengakui sudah menyusun komposisi menteri untuk kabinet periode 2019-2024. Jokowi menyebut akan secepatnya mengumumkan formasi Kabinet Indonesia Kerja jilid II tersebut.

“Sudah, sudah (menyusun kabinet), secepatnya (diumumkan),” kata Jokowi di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (12/7).

Jokowi belum mau bicara terbuka soal komposisi para menterinya. Ia hanya menyatakan formasi kabinetnya diisi dari kalangan partai dan profesional.

“Kira-kira 60 (partai):40 (profesional) atau 50:50. Kira-kira itu,” ujarnya.

Presiden terpilih itu tak mempermasalahkan sejumlah partai pendukungnya sudah meminta kursi menteri. Partai politik yang sudah terbuka menyampaikan harapan mendapatkan kursi menteri antara lain PKB, NasDem, serta PPP.

“Ya enggak apa-apa mau minta 10, mau minta 11, mau minta 9. Kan enggak apa-apa, wong minta aja,” tuturnya.

Sebelumnya Jokowi sudah menerima Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartato, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum NasDem Surya Paloh, dan Plt Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *