Dukung Rekonsiliasi Prabowo-Jokowi, Arief Puyuono: Tapi Jangan Ada…

Sudah hampir tiga bulan berlalu pasca Pilpres 2019, namun rekonsiliasi antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto juga tak kunjung terjadi hingga detik ini. Tampaknya sungguh sulit dan berliku jalan diantara keduanya untuk bertemu. Walaupun begitu, wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Puyuono mendukung rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo.

Arief mengaku terus mendorong Prabowo untuk bertemu dengan Jokowi.

Hal itu diungkapkan Arief dalam diskusi bertajuk ‘Rekonsiliasi Indonesia Kerja Menuju Adil Makmur’ di Kopi Politik, Pakubuwono, Jakarta Selatan, Jumat (12/7/2019). Arief mengatakan rekonsiliasi tersebut harus terwujud atas dasar persatuan Indonesia bukan sekadar lobi-lobi politik.

(gonews.co)

“Saya sebagai pimpinan Gerindra menyambut baik rekonsiliasi. Saya terus mendorong ketum saya (Prabowo) untuk mengadakan pertemuan dengan Jokowi. Artinya, bukan pertemuan bagi-bagi kursi. Semangatnya persatuan,” tutur Arief.

Menurut Arief, rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo sangat diperlukan untuk kembali mempersatukan adanya polarisasi yang terjadi pada Pilpres 2019.

idntimes.com

“Rekonsiliasi ini sangat diperlukan, tetapi ada beberapa catatan dalam rekonsiliasi ini harus benar-benar lahir dan batin, jangan ada dusta di antara kita karena persatuan dari dua grup (01 dan 02) yang sekarang sedang terbelah diperlukan,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Arief, jika polarisasi yang terjadi akibat Pilpres 2019 tidak kembali dipersatukan dengan rekonsiliasi justru akan ada pihak ketiga yang memanfaatkan keterbelahan di masyarakat tersebut.

“Ini harus bersatu. Kalau terbelah, itu pihak ketiga diuntungkan. Seperti pihak asing. Semoga ini bisa terjadi, Indonesia Kerja menuju Indonesia Adil dan Makmur. Adil Makmur harus kerja juga kan. Kerja kalau tidak ada tujuan, tidak benar,” ucapnya.

Sementara itu, mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menilai wacana rekonsiliasi antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto dan para pendukungnya merupakan suatu keharusan. Tapi jangan sampai justru memiliki agenda tersembunyi.

“Rekonsiliasi itu menghentikan pertikaian politik, kembali ke posisi masing-masing. Yang mau opisisi, oposisi; yang mau koalisi, koalisi baik-baik. Jangan punya agenda tersembunyi dari sebuah koalisi maupun oposisi. Kembali ke undang-undang dasar,” kata Mahfud di Jakarta, Rabu malam, 11 Juli 2019.

Mahfud tak setuju pendapat sebagian kalangan yang menyatakan rekonsiliasi tak perlu karena bukan habis berperang. Baginya, rekonsiliasi tetap penting, akibat perang atau bukan, terutama untuk meredakan pertikaian politik usai pemilu.
liputan6.com

Rekonsiliasi alias perdamaian di antara kelompok-kelompok yang berselisih, katanya, juga bukan berarti semua harus bergabung dalam pemerintahan atau pihak pemenang pemilu, melainkan saling mendukung untuk membangun bangsa.

Dia menganggap sekarang rekonsiliasi itu memang belum terwujud, tetapi sudah berproses dan pada saatnya nanti terjadi. Sebagaimana karakter masyarakat Indonesia, biasanya pertikaian sekeras apa pun pada akhirnya nanti akan berdamai.

“Yang penting kita berusaha dengan sungguh-sungguh dan proses-proses ke arah sana, saya rasa sedang berjalan, dan akan selesai,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *