Korban Sistem Zonasi! Ditolak SMP Negeri, Anak Keluarga Miskin Terancam Putus Sekolah! Padahal Sudah Nabung untuk…

grid.id

Sistem zonasi sekolah sepertinya kembali memakan mimpi salah satu anak miskin Indonesia. Walau jarak rumah dan sekolah yang ia daftar dekat, juga nilainya tidak rendah, ia tetap ditolak. Tak punya biaya, ia harus menerima kenyataan putus sekolah tahun ini, begini kisahnya.

Banyak calon murid dan orang tua murid yang merasa dipersulit saat ingin mendaftar ke sekolah yang diinginkan. Salah satunya Pasha Pratama (12) yang merupakan warga Padukuhan Bulu, RT 05 RW 14, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo.

wiken.grid.id

Dilansir dari Wiken.Grid.id, ia harus menelan pil pahit lantaran namanya tidak tercantum dalam pengumuman siswa baru di SMPN 2 Karangmojo, Gunungkidul, DIY.

Setelah mengetahui kenyataan itu, ia tidak bisa dengan mudah mendaftar ke SMP swasta. Lantaran kondisi keuangan keluarganya yang serba kekurangan.

Keinginan Pasha untuk melanjutkan sekolah pun harus pupus sudah. Nenek Pasha, Rebi (65), menceritakan, ibu kandung cucunya itu telah lama meninggal dunia dan ayahnya, Sugeng, sedang mengidap gangguan jiwa.

Hasil gambar untuk pasha korban sistem zonasi
jogja.suara.com

Sementara itu, Pasha ternyata tak seorang diri menghadapi nasib pahit itu. Romi Kurniawan (12) yang rumahnya tidak jauh dari rumah Pasha, sempat pula ditolak di SMPN Karangmojo.

Namun, karena kondisi ekonomi keluarganya lebih baik dari Pasha, Romi akhirnya mendaftarkan diri di sekolah swasta.

Hasil gambar untuk pasha korban sistem zonasi
suara.com

Sementara itu, dilansir dari Intisari online, Pasha hanya bisa tertunduk dan menahan perasaan sedih saat wartawan berkunjung ke rumah kakek dan neneknya yang nampak sederhana.

Pasha masih sedih lantaran tidak diterima di SMPN 2 yang jaraknya hanya 2 kilometer dari rumahnya. Ia memang kini tinggal di rumah kakek dan neneknya.

Hasil gambar untuk pasha korban sistem zonasi
jogja.suara.com

Tidak hanya Pasha, tetapi ayahnya yang bernama Sugeng juga tinggal di sana. Namun, Sugeng mengalami gangguan jiwa sedangkan ibu Pasha sudah meninggal dunia karena kecelakaan usai membelikan sate untuknya ketika ia masih duduk di kelas 3 SD.

Rebi sendiri hanya bekerja sebagai seorang buruh tani yang tidak seberapa hasilnya. Hal itu membuat keluarganya pasrah ketika Pasha tidak diterima di SMPN 2 Karangmojo.

Hasil gambar untuk pasha korban sistem zonasi
tribunnews.com

“Membeli air saja susah, mengingat saat ini masa kekeringan dan sulit untuk mencari air untuk pengairan,” keluh Rebi.

Pasha juga sempat menceritakan bahwa dirinya sangat ingin masuk ke SMPN 2. Alasannya, karena jarak rumah ke sekolah yang dekat dan nilainya juga terhitung tinggi. Selain itu, sekolah itu juga sudah sesuai dengan aturan sistem zonasi yang diterapkan tahun ini.

Namun, saat pengumuman tiba, tidak ada namanya dan ia pun hanya bisa menangis.

“Saya cari nama saya di papan pengumuman kok tidak ada, ternyata saya tidak diterima dan itu rasanya sedih sekali. Tapi teman saya yang nilainya lebih rendah dan rumahnya lebih jauh malah keterima. Itu yang membuat saya kecewa, padahal nilai saya tidak begitu buruk yaitu 15,83 dan teman saya yang nilainya 13 malah keterima,” cerita Pasha sedih.

Padahal, Pasha sudah membeli peralatan sekolah menggunakan uangnya dari hasil menabung beberapa tahun. Rebi, sang nenek pun mengaku setiap hari Rebi memberi semangat pada sang cucu.

“Saya ingin Pasha sekolah,” harap sang nenek.

Sementara itu, menurut salah satu tetangga Rebu, Sarwanto, dirinya juga sering memberikan semangat untuk Pasha. Pasalnya, sejak tidak diterima sekolah, Pasha sempat mengurung dirinya di rumah.

“Lalu saya tanya kalau sekolah tidak di SMP 2 Karangmojo bagaimana? Pasha mengaku bingung harus naik apa ke sekolah mengingat di sini tidak ada angkutan umum. Sudah lama daerah sini tidak ada angkutan umum,” papar Sarwanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *