Akibat Tak Kuasa Tahan Emosi Sabet Hakim Pakai Gesper, Advokat Desrizal Harus Rasakan Hal Ini

Diketahui kuasa hukum Tomy Winata, Desrizal Chaniago tak kuasa menahan marah lantaran gugatannya ditolak dalam kasus perdata melawan PT Geria Wijaya Prestige (GWP) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (18/7). Pengacara itu pun secara tiba-tiba mendatangi hakim seraya melayangkan ikat pinggangnya ke arah pemimpin sidang.

Kasus ini berbuntut panjang. Tak tinggal diam, Sunarso dan PN Jakpus selaku institusi melaporkan Desrizal ke Polres Jakarta Pusat, Kamis (18/7), atas dugaan penganiayaan dan kejahatan terhadap penguasa umum.

Usai menjalani pemeriksaan 1×2 jam, Desrizal ditetapkan sebagai tersangka. Jumat (19/7) malam, Desrizal resmi ditahan. Penahanan ini berselang beberapa saat usai polisi menaikkan statusnya.

“Sekaligus dilakukan penahanan dengan persangkaan Pasal 351 (KUHP) ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan dan atau Pasal 212 KUHP,” kata Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan di kantornya, Jumat (19/7), seperti yang dilansir dari Kumparan.com.

(tribunnews.com)

Sementara itu, Humas PN Jakarta Pusat, Makmur, menilai Desrizal selama rangkaian persidangan memang kerap menunjukkan sikap tak sopan. Namun selama ini, sikap arogansi Desrizal tak pernah memakai cara fisik. Hingga puncaknya pada sidang putusan, ia tak kuasa menahan amarah lantaran gugatannya ditolak.

“Kalau informasi resmi dari majelis hakim, yang bersangkutan selama pemeriksaan perkara itu berjalan sebelumnya pun yang bersangkutan, terkadang menunjukkan sikap arogannya, atau tidak bersahabat, ya, di ruang sidang,” kata Makmur di PN Jakpus, Jumat (19/7).

Diketahui, Desrizal merupakan anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Jakarta Selatan. Ketua DPC Peradi Jakarta Selatan, Octolin Hutagalung, menegaskan akan membela Desrizal di sidang kode etik Dewan Kehormatan Peradi.

(tribunnews.com)

“Terlepas dari kasus pidananya, azas praduga tak bersalah, sebagai Ketua DPC saya berkewajiban membela anggotanya,” kata Octolin saat dihubungi kumparan, Jumat (19/7).

“Yang berhak menyatakan salah atau tidaknya, Dewan Kehormatan. DPC tidak bisa menyatakan dia bersalah. Saya juga tidak boleh menghakimi dia bersalah, karena itu bukan domainnya ketua DPC. Sama seperti militer, kalau tentara yang bersalah yang mengatakan bersalah ‘kan mahkamah militernya,” lanjutnya.

(tribunnews.com)

Octolin mengaku telah melihat utuh video penyerangan Desrizal dari pantauan CCTV. Octolin melihat ada anggota Dewan Pengawas Peradi yang menyaksikan kejadian tersebut.

“Mekanisme yang dia lakukan adalah mengumpulkan fakta-fakta, membuat laporan ke DPD ke Dewan Kehormatan, itu kan ada aturannya di AD ART. Kemudian, pengawas itu meminta bantuan kepada ketua DPC, itu saja sebenarnya,” jelas Octolin.

(tribunnews.com)

Di sisi lain, Tomy Winata, sebagai klien Desrizal, sudah angkat bicara. Melalui juru bicaranya, Tomy meminta maaf atas insiden itu.

“Oleh karena itu TW minta maaf kepada semua pihak khususnya pihak yang menjadi korban atas terjadinya hal tersebut. Kami pun heran apa yang menyebabkan dia gelap mata,” tutur juru bicara TW, Hanna Lilies, dalam keterangan tertulis, seperti yang dikutip dari Kumparan.com, Sabtu (20/7).

“Kami dan TW sangat terkejut saat diberi tahu tentang peristiwa pemukulan tadi siang dan kami sangat menyesalkan. Padahal selama ini yang kami tahu DA bukan termasuk orang yang tempramental,” ungkapnya.

Tomy menyerahkan kasus ini kepada kepolisian. Dia meminta Desrizal mengikuti proses hukum yang ada.

“Sehubungan dengan peristiwa tersebut TW sedang berusaha untuk mempercepat kepulangannya ke tanah air,” tutup Hanna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *