Edy Rahmayadi Malah Dilarang untuk Hadir ke Konferda PDIP Sumut, Alasannya Bikin Ketawa

(jpnn)

Konferensi Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sumatera Utara dipenuhi gemuruh tawa para hadirin. Kejadian tersebut, tatkala Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, menuturkan saat ia dilarang oleh orang-orang di sekitarnya mendatangi konferensi tersebut.

“Saya tadi malam hingga subuh banyak mendapatkan Short Message Service (SMS) agar tidak datang ke sini. Kata mereka jangan datang pak, orang itu tidak ada yang memilih bapak kemarin,” ujarnya, Sabtu (20/7), seperti yang dilansir dari medan.tribunnews.com.

Gubernur Edy Sebut Dirinya Dilarang Orang di Sekitarnya Hadiri Konferda PDIP Sumut, Ini Alasannya
(medan.tribunnews.com)

Sontak ungkapan tersebut membuat riuh ruangan konferensi yang diadakan di Santika Dyandra Hotel. Edy menegaskan, kedatangannya tersebut merupakan sebuah bentuk demokrasi yang sehat.

“Mau senang dan tidak senang saya saat ini Gubernur. Pak Djarot itu adalah sahabat saya, dulu beliau Wakil Gubernur saya Pangkostrad. Kemudian kami bertanding, itulah demokrasi,” ujarnya.

Edy juga mengungkapkan kilas hubungannya bersama salah satu Ketua DPP PDIP, Trimedya Pandjaitan.

“Saya sama bang Trimedya ini memiliki hubungan pasang surut, tetapi kami sama-sama memiliki jiwa anak Medan,” imbuhnya, seperti yang dilansir dari medan.tribunnews.com.

Hasil gambar untuk Edy Rahmayadi
(tribun Jambi)

Edy juga melontarkan joke kepada Wasekjen PDIP Eriko Sotarduga. Ia mengaku cemburu, melihat sosok Eriko yang dihormati segenap kader partai.

“Saya melihat Pak Eriko ini sangat dihormati sekali. Saya tanyakan ke pak Trimed, apa jabatannya? Kayaknya Gubernur tak ada pengaruhnya terhadap partai. Pak Eriko jangan percaya diri dulu, kalau saya yang diberikan wewenang saya nanti yang dihormati,” katanya.

Hasil gambar untuk Edy Rahmayadi
(boombastis)

Sontak candaan tersebut menimbulkan gelak tawa para kader yang hadir. Edy juga melakukan kilas balik saat transformasi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menjadi PDIP dahulu.

“Saya ingat betul PDI ini merupakan fusi beberapa partai, karena pertanyaan itu merupakan persyaratan kelulusan saya dulu. Pada waktu perubahan PDI menjadi PDIP saya termasuk orang yang dilempar. Pangkat saya mayor waktu itu,” jelasnya.

Hasil gambar untuk Edy Rahmayadi
(tagar)

Pada kesempatan itu Edy mengajak segenap unsur partai untuk membangun Sumatera Utara.

“Saya telah bertekad untuk kampung besar saya ini, ayo kita bangun Sumut bila ada ide untuk mengelola visi ini. Persoalan kita tarung lagi lima tahun ke depan itu nanti saja, itupun kalau saya mau karena itu hak saya,” ucapnya.

Hasil gambar untuk Edy Rahmayadi
(bolasport)

Mantan Pangkostrad itu menjelaskan, ia meminta agar dapat bersinergi dengan PDIP.

“Saya minta agar kita klop dulu. Klop itu bahasa Medan, matching artinya. Saya tak peduli siapapun yang terpilih menjadi Ketua yang penting kita klop dulu,” ungkapnya.

Terakhir, Edy mengungkapkan komitmennya terhadap Pancasila.

“Saya memang bukan orang PDIP tapi jiwa saya Pancasila,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *