Nah Lho! Dapat Suara Paling Sedikit di Pemilu 2019, PPP Blak-blakan Minta Jatah Posisi Ini

(tribunnews.com)

Usai Pemilu 2019, banyak parpol mulai menentukan arah politiknya. Begitu juga dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengungkapkan minatnya untuk mengisi posisi sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Perolehan suara di Pemilu 2019 lalu diharapkan tidak menjadi patokan. Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa mengatakan selama ini ada tradisi tidak tertulis di parlemen di mana partai dengan perolehan suara kedua terbanyak berhak atas posisi Ketua MPR.

“Kalau itu ada, kenapa kita juga yang paling bungsu bisa dikasih kesempatan itu, seperti di negara lain yang paling bungsu jadi ketua senat,” kata Suharso di Mukernas PPP di Kota Serang, Banten, Sabtu (20/7/2019).

Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani saat ditemui usai acara pembukaan Mukernas PPP di Hotel Ledian, Serang, Banten pada Jumat, 19 Juli 2019. Dewi Nurita/TEMPO
tempo.co

Hasil pemilu 2019 lalu, menempatkan partai berlambang Ka’bah urutan terkahir yang lolos ke parlemen dengan raihan 4,52 persen suara. Dengan demikian, jika mengikuti tradisi yang disebut Suharso, peluang PPP untuk mengisi kursi ketua sangat kecil. Tapi Suharso tetap berharap partainya diberi kesempatan untuk memimpin, setidaknya jadi wakil ketua.

“Kalau bisa jadi ketua lebih bagus, tapi minimal jadi wakil ketua MPR,” kata dia.

Suharso mengatakan, akan membicarakan soal pemilihan ketua MPR dengan koalisi Indonesia Kerja (KIK) dalam waktu dekat.

“Sudah disampaikan, nanti kita agendakan itu,” pungkas dia.

PPP Blak-blakan Minta Jatah Kursi Ketua MPR
cnn indonesia

Diketahui, selain PPP partai Gerindra juga sudah mengutarakan minatnya untuk menjadi Ketua MPR. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPR Sodik Mudjahid. Sodik mengusulkan, Komposisi pimpinan MPR dan DPR periode 2019-2024 adalah Gerindra sebagai ketua MPR dan PDI-P sebagai ketua DPR.

Tak hanya itu saja Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengevaluasi penyebab perolehan suara partainya anjlok di pemilihan umum 2019 dalam musyawarah kerja nasional (Mukernas) PPP yang digelar pada 19-20 Juli 2019. Menurut Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani, partai menilai salah satu penyebab krusial turunnya kursi PPP di parlemen akibat metode perhitungan suara Saint Lague yang diberlakukan dalam Pemilu 2019.

“Kalau dengan metode sebelumnya, dengan kuota hare itu, PPP tidak 19 kursi, tapi mendapat 26 kursi di parlemen,” ujar Arsul Sani di Hotel Ledian, Serang, Banten pada Jumat malam, 19 Juli 2019.

partaigerindra.or.id

Sainte Lague murni merupakan metode nilai rata-rata tertinggi yang digunakan untuk menentukan jumlah kursi yang telah dimenangkan dalam suatu pemilihan umum. Sementara kuota hare yang digunakan di dalam sistem pemunguran suara yang dapat dipindahtangankan dan juga dalam sistem pemilu yang menggunakan kuota minimal. Sistem ini dinilai lebih menguntungkan partai-partai kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *