Meski Menang, MU Kecewa dengan Wasit yang Hentikan Pertandingan Perkara Nyanyian Suporter

Suporter Madura United menyanyikan lagu dengan lirik kasar kepada Arema. Saat Duel Madura United kontra Arema FC di Stadion Gelora Madura. Alhasil, pertandingan sempat dihentikan sebanyak dua kali oleh wasit Rapiko. Meski menang, Madura United merasa kecewa atas keputusan wasit yang menghentikan pertandingan  karena dianggap tidak fairplay.

Meski Madura United menang atas Arema FC  di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan, Sabtu (20/7/2019) kemarin. Mereka merasa kecewa atas keputusan wasit yang menghentikan permainan.

Wasit rapiko mengambil keputusan itu karena menilai nyanyian yang disuarakan oleh suporter Arema FC kasar dan tidak pantas.

Nyanyian itu berasal dari kelompok K-Conk Mania yang berada di tribune utara dan selatan. Pada babak pertama, wasit hanya menghentikan laga selama beberapa detik. Berikutnya, di awal babak kedua, pertandingan terpaksa dihentikan sekitar tiga menit.

(tribunnews.com)

Kapten Madura United, Greg Nwokolo, sempat meminta suporter untuk menghentikan nyanyian bernada kurang pantas itu. Demikian halnya dengan jajaran pelatih dan pemain Madura United yang berada di bangku cadangan berusaha menenangkan suporter.

Image result for dejan antonic
(tribunnews.com)

Setelah laga dilanjutkan, nyanyian tersebut sebenarnya masih sempat terdengar beberapa kali, namun tidak dihentikan oleh wasit. Pelatih Madura United, Dejan Antonic, menilai umpatan yang terkandung dalam lirik lagu itu merupakan hal yang biasa.

“Suporter bilang jan**k ya? Padahal, kalau orang masuk taksi bilang jan**k. Kalian semua orang Indonesia tahu jan**k itu hal yang biasa. Tapi, jangan (dinyanyikan) untuk lawan. Saya tidak suka dengar itu,” kata Dejan.

(tribunnews.com)

Jan**k merupakan umpatan khas masyarakat Jawa Timur. Namun, istilah ini juga kerap dipakai untuk menjalin keakraban. Meski, di sisi lain, kata tersebut juga kerap dilontarkan sebagai makian dan ungkapan kemarahan.

Dejan termasuk orang yang mengerti dengan kultur Jawa Timur. Meski asli Serbia, pelatih berusia 60 tahun itu pernah berkarier sebagai pemain Persebaya Surabaya dan Persema Malang. Dia juga sempat menangani Arema.

jawapos.com

“Orang bilang itu rasis. Itu bukan rasis. Rasis itu warna (kulit). Kalau kamu lempar pisang itu rasis. Ini namanya no fairplay. Di mana-mana, saat Madura United bertandang, kami main lebih banyak dengar lagu dari suporter lawan,” ucap Dejan.

(tribunnews,com)

“Kalau ada ketentuan seperti itu (pertandingan dihentikan sementara), di seluruh Indonesia seharusnya begitu. Mungkin, kami bisa memberi edukasi kepada suporter. Itu lebih bagus dan fairplay. Kalau kami kasih tahu yang benar, semua suporter Indonesia bisa belajar,” imbuhnya.

Secara terpisah, manajer Madura United, Haruna Soemitro, mengaku kecewa dengan keputusan wasit yang sempat menghentikan sementara pertandingan.

Dia menilai wasit tidak memiliki dasar yang jelas karena lagu tersebut juga kerap terdengar di stadion lain.

“Saya kecewa dengan wasit karena menghentikan pertandingan karena katanya ada nyanyian rasis. Arema jan**k itu apa rasis? Itu kan olok-olok. Semua stadion di Indonesia, lagunya sama. Misalnya, bantai Madura, bunuh Madura, hancurkan Madura,” ujar manajer asal Surabaya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *