Joko Avianto Kecewa Atas Respon Masyarakat, Lebih Fokus Soal Anggaran Dibanding Seninya

kumparan.com

Seniman pembuat instalasi bambu getih getah yang pernah dipasang di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI) Joko Avianto menyesalkan bahwa masyarakat hanya menyoroti anggaran ketimbang menilai karya seninya. Karya seni instalasi itu sempat dipajang di Bundaran HI, Jakarta Pusat, dari Agustus 2018 hingga pertengahan Juli ini.

Tentunya saya resah bahwa ukuran angka dan sifat materialistis terlalu menjadi hidangan utama agenda kepentingan ini, menjadi sangat pragmatis, dan tidak mendidik ke arah kualitas manusia Indonesia yang lebih baik,” kata Joko Avianto sebagaimana dikutip dari akun Instagram-nya @Jokoawi.

Petugas Suku Dinas Kehutanan Jakarta Pusat mengganti tanaman yang rusak di sekitar instalasi bambu Getah Getih, Jakarta, Minggu (23/6/2019). Perbaikan tersebut dilakukan karena tanaman hias di kawasan tersebut rusak akibat terinjak warga saat menghadiri perayaan HUT Jakarta ke-492, Sabtu (22/6/2019).
kompas.com

Ia tak ingin hal itu menjadi kontroversi dan menginginkan bahwa masyarakat menikmati instalasi bambu getih-getah itu dari segi seni.

Terlepas dari kontroversi keterbelahan, saya ingin menyampaikan bahwa seni memiliki fitrah universalitas, keterbukaan persepsi, pengalaman serta lintas dialog, bahwa ada sensasi keindahan lain yang meresahkan itu merupakan bagian sifat seni,” tulis dia.

Joko menceritakan, ketika menerima proyek itu, ia memang berniat untuk membantu dan mewujudkan ide dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam menyongsong Asian Games 2018 dan HUT RI ke 73. Ia menerima dengan senang hati dan sangat bangga karena karyanya mampu bersanding dengan karya lain dari para seniman sepuh.

Hasil gambar untuk getah getih
inews.id

Karena kesempatan ini sangat langka bisa bersanding satu aksis dari utara ke selatan dengan tetengger kota seperti Patung Arjuna Wijaya 1987 (Nyoman Nuarta), Monumen Selamat Datang 1961 (Henk Ngantung dan Edhi Sunarso), Patung Jendral Sudirman 2003 (Sunaryo), dan Patung Pemuda Membangun 1971 (Munir Pamuncak), dan ketiga di antaranya adalah guru-guru dan pinisepuh saya,” lanjutnya.

Joko menambahkan, adanya pameran karyanya itu tak bermaksud mengabaikan badan berwenang dalam pengawasan dan pembangunan kota.

Dukungan kuratorial dan proses asesmen lainnya project ini tetap berjalan, dengan menjamin tidak akan ada kerusakan dan pencemaran di lokasi apalagi merebut titik orientasi kota,” tambahnya.

Instalasi bambu tersebut dibongkar pada Rabu malam pekan lalu setelah sekitar 11 bulan berada di sekitar Bundaran HI. Biaya pembuatan serta pemasangan instalasi seni bambu tersebut sebesar Rp 550 juta.

View this post on Instagram

Tahun lalu di suatu penghujung pertemuan di Pendopo Balaikota, hati saya tergerak membantu mewujudkan ide pemprof DKI via Pak Gubernur @aniesbaswedan dalam menyongsong ASIAN GAMES 2018 dan HUT RI ke 73, karena kesempatan ini sangat langka bisa bersanding satu aksis dari utara ke selatan dengan tetengger kota seperti Patung Arjuna Wijaya 1987 (Nyoman Nuarta), Monumen Selamat Datang 1961 (Henk Ngantung dan Edhi Sunarso), Patung Jendral Sudirman 2003 (Sunaryo), dan Patung Pemuda Membangun 1971 (Munir Pamuncak), dan ketiga diantaranya adalah Guru-Guru dan Pinisepuh saya. Tanpa bermaksud mengabaikan badan berwenang dalam pengawasan pembangunan kota, dukungan kuratorial dan proses asesmen lainnya project ini tetap berjalan, dengan menjamin tidak akan ada kerusakan dan pencemaran di lokasi apalagi merebut titik orientasi kota. Tiba-tiba karya ini seperti ritual street art memburu waktu dan sembunyi-sembunyi tentunya bertujuan memberikan efek kejutan untuk publik luas. Sama sekali karya ini tidak memiliki kualitas bahan monumen yang abadi seperti laiknya batu atau perunggu, tujuannya berbeda, bersifat festive, momentarily, tetapi mengandung sifat memorial, ya setidaknya di alogaritma yang terekam di gadget anda. Tahun ini tahun ke-16, saya berkarya dengan #bamboo ,sekurang kurangnya pernah menghampiri 6 negara. Satu capaian yang tak terbayarkan adalah karya saya yang pernah menghampiri Jepang akan dipelajari dan mengisi buku kurikulum pendidikan seni SMP dan SMA mulai 2020, saya pun sulit membayangkannya. Terlepas dari Kontroversi keterbelahan saya ingin menyampaikan bahwa seni memiliki fitrah universalitas, keterbukaan persepsi, pengalaman serta lintas dialog, bahwa ada sensasi keindahan lain yang meresahkan itu merupakan bagian sifat seni. Tentunya saya resah bahwa ukuran angka dan sifat materialistis terlalu menjadi hidangan utama agenda kepentingan, ini menjadi sangat pragmatis dan tidak mendidik ke arah kwalitas manusia Indonesia yang lebih baik. Yuk ! kita mampiri galeri dan museum seni dan acara-acara kesenian lainnya. Ini adalah karya saya di generasi ini, mana karyamu?

A post shared by Joko Avianto (@jokoawi) on

Bambu Anies Kok Lebih Heboh dari Gempa Halmahera, Ini Analisisnya

Jika di media sosial instalasi bambu Getah Getih lebih menarik dibahas warganet, dinamika sebaliknya terjadi pada media online. Pada platform berita daring, informasi soal Gempa Halmahera lebih banyak dibahas dan diwartakan dibanding soal instalasi bambu di Jakarta tersebut.

Hasil gambar untuk Gempa Halmahera
tribunnews.com

Dalam menganalisis percakapan dua isu tersebut, Drone Emprit menggunakan kata kunci Halmahera dan Bambu, dengan filter Anies, DKI, dibongkar dan Jakarta.

Data Drone Emprit menunjukkan, secara volume percakapan di media sosial, Bambu Anies mencapai 32 ribu mention sedangkan Gempa Halmahera cuma 18 ribu mention.

“Meski isu Bambu Anies ini baru muncul empat hari setelah gempa, ternyata jumlah percakapannya jauh lebih besar,” tulis Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi di akun Facebooknya, Minggu 21 Juli 2019.

Hasil gambar untuk Gempa Halmahera
tempo.co

Ismail mengungkapkan, pada periode analisis 13 sampai 21 Juli, Drone Emprit menemukan 69 persen atau sekitar 30 ribu mention di Twitter tentang Bambu Anies dibanding 31 persen atau 13 ribu mention tentang Gempa Halmahera.

Tak jauh beda, di platform Facebook, Drone Emprit menemukan 75 persen mention tentang Bambu Anies dan 27 persen mention tentang Gempa Halmahera.

Sementara dalam media daring masih proporsial dan faktual mana isu yang penting dari dua hal tersebut. Ismail mengungkapkan pada berita online, 85 persen atau 3924 mention pemberitaan adalah tentang Gempa Halmahera. Sedangkan mention pemberitaan Bambu Anies cuma 15 persen atau 708 mention.

“Dilihat dari tren, artikel tentang gempa Halmahera juga masih terus lebih tinggi dibanding tentang Bambu Anies,” ujar Ismail.

Dari data tersebut, Drone Emprit menyimpulkan, bagi warganet Indonesia, isu pembongkaran instalasi bambu Getah Getih lebih penting dibandingkan Gempa Halmahera. Sedangkan bagi media online isu Gempa Halmahera masih lebih layak dikonsumsi publik dibanding pembongkaran bambu tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *