Usai Berjuang Melawan Kanker, Legenda Tenis Australia Peter McNamara Tutup Usia

Kabar duka datang dari dunia tenis. Petenis asal Australia, Peter McNamara dikabarkan meninggal dunia dalam usia 64 tahun pada 22 Juli 2019, seperti yang dilansir dari Media Indonesia. Legenda tenis yang juga juara ganda Wimbledon ini dilaporkan meninggal karena kanker prostat yang ia derita.

“Kami semua sangat sedih mendengar meninggalnya Peter McNamara, anggota keluarga tenis kami yang sangat dicintai dan dihormati,” kata Tennis Australia, seperti yang dilansir dari Media Indonesia.

(skysports.com)

“Kontribusinya bagi olahraga sebagai pemain, pelatih, dan mentor tidak akan pernah dilupakan. Pikiran kami bersama keluarga dan teman-temannya.”

(segodnya.ua)

Diketahui, McNamara mencapai peringkat tujuh dunia, ranking tertingginya sepanjang karir pada tunggal, memenangi lima gelar, tetapi mungkin paling dikenal karena berpasangan ganda bersama sesama warga negara Australia Paul McNamee. Duo ini dua kali menjuarai Wimbledon, pada 1980 dan 1982, serta Australia Terbuka 1979.

“Sulit dipercaya bahwa setelah 50 tahun pertemanan Macca pergi,” cuit McNamee.

“Kamu menjalani hidup sebagai teman sepenuhnya dan akan dirindukan oleh orang-orang yang kamu cintai dan banyak lagi … bersulang untuk saat-saat yang hebat teman,” katanya.

(skysports.com)

Setelah pensiun dari bermain, McNamara beralih menjadi pelatih, membimbing Mark Philippoussis dan Grigor Dimitrov, sebelum bekerja dengan Wang Qiang dari China.

Pelatih Serena Williams Patrick Mouratoglou menyebutnya “sangat karismatik, sangat bersemangat dengan pekerjaannya”.

“Dia melakukan pekerjaan luar biasa dengan Grigor Dimitrov membantu transisinya ke pro,” tambahnya.

Boris Becker mengatakan, “R.I.P Peter P. McNamara! Salah satu orang baik di tenis!”.

Sementara itu, mantan pelatih Simona Halep, Darren Cahill, menyebutnya “seorang pemain hebat, pelatih hebat yang meningkatkan setiap pemain yang bekerja dengannya”.

(skysports.com)

Di sisi lain, pada Juni lalu, pelari jarak menengah asal Amerika Serikat, Gabriele “Gabe” Grunewald, meninggal dunia pada usia 32 tahun akibat kanker. Kabar kepergian atlet lari asal Minnesota ini diunggah oleh suami Gabe, Justin Grunewald, melalui akun Instagram-nya.

(kompas.com)

“Pada pukul 7:52 saya berkata, ‘saya tidak bisa menunggu sampai saya bisa melihat Anda lagi’ kepada pahlawan saya, sahabat saya, inspirasi saya, istri saya,” tulis Justin.

“Aku selalu merasa seperti Robin bagi Batmanmu dan aku tahu tidak akan pernah bisa mengisi lubang menganga ini di hatiku atau mengisi sepatu yang kau tinggalkan. Keluargamu sangat menyayangimu, begitu juga teman-temanmu,” Justin melanjutkan, seperti yang dilansir dari Kompas.com, Senin (22/7/2019).

View this post on Instagram

At 7:52 I said “I can’t wait until I get to see you again” to my hero, my best friend, my inspiration, my wife. @gigrunewald I always felt like the Robin to your Batman and I know I will never be able to fill this gaping hole in my heart or fill the shoes you have left behind. Your family loves you dearly as do your friends. When @chipgaines made the final push in his #chipinchallenge I could feel your happiness building and could also see that this made you ready to head up to heaven. Chip thanks for helping her to go up so peacefully with no suffering. To everyone else from all ends of the earth, Gabriele heard your messages and was so deeply moved. She wants you to stay brave and keep all the hope in the world. Thanks for helping keep her brave in her time of need 😪🙏🏻 #keeprunningonhope #bravelikegabe 📸 @pixelcrave 📷 @kohjiro_kinno

A post shared by Justin Grunewald (@justingrunewald1) on

Nyatanya, kepergian Gabe mengundang simpati Komite Olimpiade Amerika Serikat. Dalam Twitter-nya, mereka menyatakan bahwa Gabe telah banyak menginspirasi banyak orang, terutama tim atletik Amerika.

“Terima kasih telah mengajari kami apa artinya berani dan berani. Kisah dan ingatan Anda akan menginspirasi keluarga Tim USA untuk seumur hidup,” tulis Komite Olimpiade Amerika Serikat dalam Twitter-nya.

Diketahui, Gabe berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya selama 10 tahun. Dokter memvonis Gabe terkena karsinoma kistik adenoid pada 2009. Penyakit ini merupakan kanker jenis langka yang biasanya menyerang bagian kelenjar ludah.

Mengutip dari Kompas.com, selama hampir satu dekade, Gabe berkompetisi di level tertinggi di seluruh dunia. Pada tahun 2014, ia membawa pulang emas dalam kejuaraan lari 3.000 meter di Track & Field Indoor Amerika Serikat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *