Diisukan Masuk Koalisi, Pengamat : Gerindra Akan Alami Turbulensi Politik Hebat

Isu soal Partai Gerindra akan masuk koalisi Jokowi santer dibicarakan oleh media saat ini. Hal ini dimulai dari bertemunya Ketum Gerindra dengan rival capresnya di MRT lalu bertemu dengan Ketum PDI P. Akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) meramalkan apabila pertemuan tersebut adalah bermaksud koalisi maka kedepannya Gerindra akan alami turbulensi politik hebat.

Akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Mikhael Raja Muda Bataona mengatakan Partai Gerindra akan mengalami turbulensi politik yang hebat di kemudian hari jika masuk dalam kabinet kerja Jokowi-Ma’ruf Amin.

Image result for Mikhael Raja Muda Bataona
(Tribun)

“Jika Gerindra masuk ke dalam pemerintahan, maka mereka akan mengalami turbulensi politik yang hebat di kemudian hari, karena akan ditinggalkan pendukung,” kata Mikhael Raja Muda Bataona kepada Antara di Kupang, Jumat.

Image result for megawati prabowo
(Kompas)

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan kemungkinan Gerindra masuk dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, dan untung ruginya bagi Gerindra pada pemilu mendatang.

Related image
(Viva)

Menurut dia, rugi besar jika Gerindra masuk dalam koalisi yang mendukung pemerintahan, dan berada dalam kabinet kerja Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Menurut saya, rugi besar jika Gerindra masuk kabinet, karena di akar rumput mereka akan langsung dibenci oleh para pemilih Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 lalu,” katanya.

Related image
(Kompas)

Bataona memperkirakan Gerindra sudah membuat kalkulasi bahwa mereka akan rugi besar jika masuk kabinet secara terburu-buru, hanya karena Jokowi dan Prabowo sudah melakukan rekonsiliasi.

Image result for megawati prabowo
(Kompas)

Selain itu juga karena Prabowo sudah bertemu dengan Megawati, yang merupakan Ketua Umum PDI Perjuangan, partai pengusung utama Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019.

“Jadi, rugi besar jika Gerindra masuk kabinet. Gerindra akan lebih untung jika berada di luar pemerintahan dan menjadi oposisi, sehingga tetap dicintai oleh pemilih militan pada Pemilu 2019 lalu,” katanya.

Hal ini, menurut dia, menjadi alasan paling kuat mengapa Gerindra harus berada di luar kekuasaan untuk saat ini.

Dia menambahkan, jika Gerindra  langsung masuk ke dalam pemerintahan, ke depan citra partai akan buruk ketika pengikut yang kecewa dengan sikap partai ini, sehingga tidak lagi mendukung Prabowo dan Gerindra.

“Dari aspek kalkulasi politis dan investasi persepsi publik demi merawat massa, akan lebih untung kalau Gerindra berada di luar pemerintahan,” katanya.

Apalagi, kata dia, segmentasi pemilih mereka berbeda karakter dengan pemilih dari koalisi Jokowi.

“Pemilih Prabowo sangat militan. Itu bonus dan modal besar jika Prabowo maju lagi di Pilpres 2024, dan demi memenangkan para calon dari Gerindra pada Pilkada 2020,” kata Bataona.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *