Enzo Bukan Bule Pertama yang Masuk TNI, Ini Sosok Pierre Tendean Sang Pahlawan Revolusi

Keberadaan Enzo bule blasteran Indo-Prancis yang masuk Akmil membuat heboh. Kehadirannya menuai banyak pro dan kontra dikalangan publik. Tapi tahukah, bahwa Enzo bukanlah bule pertama yang jadi tentara Indonesia. Dalam sejarah ada satu nama yang bahkan diabadikan menjadi satu nama jalan yang terkenal di Jakarta. Dialah Kapten Pierre Tendean

Siapa yang tidak asing mendengar nama Kapten Pierre Tendean. Bahkan sebagian warga jakarta sudah akrab dengan nama jalan ini jika berniat pergi ke daerah Pancoran ataupun Gatot Subroto.

Image result for pierre tendean
(tribunnews.com)

Nama jalan itu diambil dari seorang perwira dan pahlawan bernama Pierre Tendean. Dialah sosok perwira yang dikenal, bersama Ade Irma Suryani, menjadi ‘perisai’ dari Jenderal AH Nasution saat peristiwa G30S..

Pengalaman medan tempurnya pun tak perlu diragukan lagi. Ketika masih berpangkat Kopral Taruna, ia sudah ikut dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera.

Sama seperti Enzo, Pierre merupakan keturunan Indo-Prancis. Dalam sejarah dirinya bulan November 1958 diterima dan masuk pendidikan Akademi Teknik Angkatan Darat (Aktekad) di Bandung. lalu Tahun 1962 lulus dengan sangat memuaskan dan dilantik sebagai Letnan Dua.

Pierre mempunyai pengalaman dalam berbagai tugas. Seperti disebut di awal, sewaktu masih Kopral Taruna tahun 1958, dia sudah ikut dalam Operasi menumpas Pemberontakan PRRI di Sumatra.

Image result for pierre tendean
(tribunnews.com)

Pierre ditempatkan dalam kesatuan Zeni Tempur yang mengikuti Operasi Sapta Marga. Jabatan Letnan Dua Pierre yang pertama adalah sebagai Komandan Peleton pada Batalyon Zeni Tempur 2/DAM II di Medan.

Dalam pelaksanaan tugas ini Pierre melaksanakan dengan hasil yang dipujikan. Sewaktu konfrontasi dengan Malaysia, Letda Pierre memasuki pendidikan intelejen. Selesai pendidikan, dia menelusup ke Malaysia, diperbantukan pada Dinas Pusat Intelejen Angakatan Darat (DIPLAD) yang bertugas di garis depan.

Selama setahun bertugas di garis depan, Pierre bisa menelusup ke Malaysia tiga kali. Menyamar sebagai turis, berbelanda.

Yang kedua bahkan bisa mengambil teropong milik tentara Inggris yang disimpan sebagai kenangan. Yang ketiga kalinya adalah saat yang kritis. Di tengah laut dia dikejar oleh sebuah destroyer, kapal perusak Inggris.

(tribunnews.com)

Pierre melarikan speedboatnya, membelokkan, dan kemudian menyelam. Dia bergantung di belakang perahu dengan seluruh badan tenggalam dalam air.

Ketika destroyer itu mendekat hanya melihat seorang yang tak mencurigakan, lalu segera pergi meninggalkan. Pierre berhasil lolos dari lubang jarum berkat kecerdikannya.

Image result for monumen pancasila sakti lubang buaya
(tribunnews.com)

Sebelum menjadi ajudan A.H. Nasution alias Pak Nas, Pierre “diperebutkan” untuk menjadi ajudan Jendral Hartawan dan Jendral Dandi Kadarsan. Tetapi kemudian, seperti diketahui Pierre menjadi ajudan Jendral Nasution. Ketika itu pangkatnya naik menjadi Letnan Satu.

Secara resmi, Lettu Pierre menjadi ajudan resmi tanggal 15 April 1965. Pierre baru bertugas sebagai ajudan Pak Nas lima setengah bulan.

Image result for pierre tendean
(tribunnews.com)

Sebenarnya masih banyak yang bisa diberikan oleh prajurit setia ini. Sebetulnya masih ingin mengecap kesenangan dunia: menjenguk Mama, mengawini Rukmini putri bapak Chaimin di Medan.

Tapi Tuhan memutuskan lain. Prajurit muda menghadap-Nya. Bersama iringan doa sebagian terbesar rakyat Indonesia. Suatu hari, jika kita lewat jalan dengan namanya, kita mengenang kepahlawanannya, terilhami pengabdiannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *