Idul Adha 2019, Masjid di Menteng Banjir Sapi Limosin, Harganya Fantastis

Idul Adha disebut pula Idul Qurban atau Lebaran Haji, merupakan salah satu hari besar yang dirayakan umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sehingga, pada hari spesial ini umat muslim berbondong-bondong melakukan kurban.

Panitia kurban Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, akan mengurbankan lima ekor sapi Limosin sumbangan sejumlah tokoh nasional yang bermukim di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Kelima sapi menambah jumlah hewan kurban yang diterima dalam perayaan Idul Adha 1440 H.

Tokoh yang dimaksud di antaranya adalah Ketua Umum PDIP juga Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, pengusaha Trans Corp Chairul Tanjung, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan putri Presiden ke-2 Soeharto, Siti Hardianti Rukmana atau yang biasa disapa Mbak Tutut Soeharto.

Ketua Harian Masjid Cut Meutia Budi Satrio mengatakan panitia kurban tahun ini akan mengurbankan seluruhnya sebanyak 15 ekor sapi dan 53 ekor kambing.

tribunnews.com

“Untuk sapi Limosin ada lima ya, beratnya kisaran 600-900 kilogram per ekor dan bahkan ada yang lebih,” ujarnya di halaman Masjid Cut Meutia, Minggu 11 Agustus 2019.

Dari sejumlah hewan kurban itu, panitia kurban menyiapkan sekitar 1.500 kupon untuk pembagian daging kurban yang akan didistribusikan ke lingkungan sekitar masjid hari ini  juga.

“Semua dari lingkungan sekitar masjid, ada yatim dan anak asuh, lansia juga,” kata Budi.

Pembagian juga diutamakan ke pedagang dan penyapu jalan. “Untuk tetangga lingkungan kami suplai ke Rukun Tetangga masing-masing sekitar masjid,” ujar dia.

Dia mengatakan bahwa pemotongan hewan kurban mulai dilakukan setelah selesai Salat Idul Adha. Sedangkan pembagian daging hewan kurban akan dilakukan setelah Salat Zuhur dengan menggunakan kantong plastik daur ulang.

Berbicara soal harga, sapi limosin memang dibanderol dengan harga yang cukup tinggi untuk ukuran hewan ternak Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari proses perawatannya yang membutuhkan biaya tak sedikit.

Alasannya karena sapi limosin harus diberi makanan alami seperti rumput gajah, rumput gembala, hingga kacang-kacangan. Tidak hanya itu, proses pemeliharaan sapi limosin juga tidak sembarangan.

Melansir situs pertanianku, sejarah sapi limosin dimulai pada periode yang dikenal sebagai Pleistoscene atau sekitar 2,6 juta sampai 12.000 tahun yang lalu. Pada saat itu, terdapat nenek moyang dari ternak modern yang dikenal dengan nama Auroch. Hewan ini termasuk salah satu megafauna yang mampu bertahan sampai abad ke-17.

Gambar Auroch ditemukan pada lukisan gua pada tahun 1940 di kawasan Lascaux, Dordogne, Perancis. Para ilmuwan memperkirakan bahwa lukisan tersebut telah berusia 17.300 tahun.

(tigapilarnews.com)

Berawal dari penemuan lukisan inilah, banyak yang meyakini bahwa Auroch merupakan nenek moyang langsung dari sapi limosin. Benar saja, ada sebuah bukti tertulis tentang keberadaan sapi limosin yang digadang-gadang sudah ada pada akhir abad ke-18.

Dalam perkembangannya, sapi limosin kemudian dikenal sebagai bangsa sapi potong berotot yang berasal dari Limousin dan Marche di Perancis. Setelah beberapa kali dilakukan perbaikan keturunan, para peternak Prancis berhasil menghasilkan jenis sapi limosin berkualitas pada tahun 1859.

Hal ini bertepatan dengan kompetisi produk pertanian yang diadakan di Poissy, dekat Paris. Sapi limosin unggul dalam sejumlah kategori sehingga reputasinya pun semakin dikenal luas.

Sementara di Indonesia, sapi limosin biasanya dihasilkan dari proses persilangan antara jenis Ongole dan Brahman. Ya, meski bibit sapi tersebut diimpor dari luar negeri, para konsumen dan peternak lokal mengaku puas dengan jenis hewan ini. Alhasil, sapi limosin mulai populer dan dikembangkan oleh banyak peternak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *