6 Cara Hindari #PropagandaRusia yang Viral Selama Kampanye Pilpres

cara hindari #propagandarusia

Joko Widodo (Foto: instagram.com/jokowi)

Tagar #PropagandaRusia menjadi viral di Twitter saat masa kampanye Pemilihan Presiden Indonesia 2019. Sebelumnya, tagar propaganda Rusia juga pernah ramai dibicarakan saat pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016. Saat itu Presiden Donal Trump dikabarkan mendapat bantuan dari negara Rusia untuk memenangkan pemilihan tersebut. Di Indonesia, tagar propaganda Rusia menjadi trending setelah calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo, menyebut bahwa kubu lawan banyak menyebarkan berita palsu selama kampanye pemilihan presiden.

Netizen banyak yang berkomentar bahwa propaganda Rusia ini dapat mencemarkan nama baik Indonesia di hadapan negara lain. Pada akhirnya, tim sukses kubu Jokowi menjelaskan bahwa propaganda Rusia ini hanya lah sebuah istilah, tidak ada hubungan atau intervensi negara Rusia dalam proses politik di Indonesia. Bahkan kedutaan besar Rusia pun membantah keikutsertaannya terkait propaganda Rusia yang disebutkan Jokowi.

Ace Hasan Syadzily, juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’aruf, menerangkan bahwa istilah propaganda Rusia mulai popular pada tahun 2016 setelah RAND Corporation menerbitkan artikel “The Russian ‘Firehouse of Falsehood’ Propaganda Model”. Propaganda Forehouse of Falsehood atau semburan kebohongan itu digunakan saat pemilu di Brasil, Mexico, dan Venezuela. Menurutnya, istilah ini sudah menjadi bagian dari metode perpolitikan baru di era post-truth. Serangan berita-berita palsu atau yang dikenal dengan hoax menjadi lazim ditemukan selama proses kampanye berlangsung.

Banyaknya serangan berita atau informasi palsu dapat menjadi pemicu untuk terjadi perdebatan dan permusuhan yang tidak diharapkan. Terlebih penyebaran informasi ini lebih banyak dilakukan di media sosial yang sangat mudah diakses oleh semua orang. Nah, sebagai masyarakat yang bijak dan cerdas, perlu membentengi diri agar tidak mudah terprovokasi berita-berita palsu yang ada. Gimana caranya? Ini dia di antaranya:

  1. Mencari Informasi dari Sumbernya

Semakin canggih teknologi, semakin mudah mendapatkan informasi. Tetapi dengan mudahnya akses tersebut, semakin sulit menyaring informasi yang bertebaran. Jadi, banteng kokoh harus dibuat secara langsung oleh diri kita. Salah satu caranya dengan tidak hanya membaca atau mencari informasi dari satu sumber saja, tetapi dari banyak sumber, dan bahkan lebih jika mencari dari sumber akarnya.

 

  1. Banyak Berdiskusi dengan Orang Lain

Perbanyak pengetahuan dan wawasan dari orang lain bisa membantu kita menarik diri dari informasi yang palsu. Ada banyak manfaat yang bisa di dapat setelah berdiskusi dengan orang lain. Selain wawasan kita bertambah, dengan berdiskusi kita bisa membuktikan informasi yang ditemukan termasuk fakta atau opini sementara.

 

  1. Tidak Mudah Terbawa Perasaan

Banyak aksi atau tindak kekerasan dan permusuhan dimulai dari perasaan. Hal ini harus dihindari dengan tidak mengedepankan perasaan saat menemukan suatu berita atau informasi.

 

  1. Mengunci Akses Penyebar Informasi Palsu

Selain kita membentengi diri dari dalam, kita juga harus peka dengan lingkungan sekitar. Bila ada orang atau suatu sumber yang sudah dikenal penyebar informasi palsu, harus dihindari atau bisa langsung ditutup akses mereka dari kita.

 

  1. Berhati-hati dengan Judul Provokatif

Pemberi berita atau informasi kini banyak yang memainkan perasaan para pembacanya. Salah satunya dengan membuat judul yang provokatif. Hal ini tentu tidak baik bagi psikologi para pembaca, karena bisa menimbulkan rasa benci atau sakit hati. Jadi, berhati-hatilah dengan atikel atau berita yang memuat judul provokatif.

 

  1. Cermati Alamat Situs

Di zaman serba internet, semua orang beralih menggunakan mode online. Menurut catatan Dewan Pers di Indonesia, terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari data tersebut, sudah terverifikasi hanya sekitar 300 situs berita yang resmi. Artinya, sekitar seribu lebih situs yang berpotensi menyebarkan informasi palsu di internet. Jadi, untuk informasi yang diperoleh dari website atau link, harus diperhatikan dengan baik alamat URL situs yang bersangkuran. Biasanya berita yang berasal dari situs media yang sudah terverivikasi Dewan Pers akan lebih mudah saat diminta pertanggungjawabannya.

 

Itulah berberapa cara yang bisa diikuti untuk menghindar dari serangan berita-berita palsu yang bertebaran di sekitar kita, khususnya saat menggunakan internet atau media online. Apa lagi sedang digelar pesta politik nih, gak mau kan terbawa provokasi oknum tak bertanggung jawab?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *