Miris! Sebelum Penembakan di Masjid, Selandia Baru Dikenal Minim Angka Kriminal

Peristiwa mengerikan di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3), menggemparkan dunia. Sekelompok orang memberondong ruangan masjid dengan tembakan bahkan disiarkan langsung di Facebook. Kejadian ini disebut sebagai ‘hari paling gelap di Selandia baru (New Zealand’s darkest day).

Saksi mata mengatakan tiba-tiba pria dengan baju militer atau baju kamuflase masuk ke dalam masjid dan memberondong seisi ruangan dengan tembakan. Penembakan terjadi di 2 masjid. Yang pertama terjadi di Masjid Linwood sekitar pukul 1.45 siang waktu setempat. Yang kedua terjadi di Masjid Al Noor dan tidak dipastikan secara rinci waktu kejadiannya.

Tangkapan layar video penembakan di dalam masjid

Hingga saat ini, sekitar 40 orang menjadi korban jiwa. Ini menjadi kejadian penembakan massal pertama sejak 1990 di Selandia Baru. Terakhir kali, kasus penembakan massal terjadi sekitar hampir 30 tahun silam sejak seorang pria menewaskan 13 orang. Korban saat itu termasuk dua anak berusia enam tahun.

Kasus itulah yang mengundang usulan pengaturan penggunaan senjata yang lebih ketat, termasuk pembatasan pada “senjata semi-otomatis gaya militer”. Pemilik senjata harus dilisensikan, diadakan peninjauan aktivitas kriminal dan kesehatan mental.

Tak hanya itu saja, pemilik senjata juga harus hadir dalam program keselamatan, penjelasan tentang bagaimana penggunaan pistol, kunjungan tempat tinggal untuk memastikan penyimpanan yang aman, serta diadakan survei melalui kerabat atau teman dari pemilik senjata. 

 

Berdasarkan data, kasus pembunuhan jarang terjadi di Selandia Baru. Bahkan, angka kematian akibat senjata lebih rendah. Ada 35 kasus pembunuhan di seluruh negeri pada tahun 2017. Sejak 2007, pembunuhan dengan senjata berada pada angka satu digit setiap tahun kecuali 2009 yang mencapai 11.

Meski begitu, banyak senjata yang terdaftar di Selandia Baru. Jumlahnya mencapai 1,2 juta senjata api yang terdaftar di negara berpenduduk 4,6 juta orang pada tahun 2017.

Kejadian ini mengundang reaksi keras dari berbagai pihak. Mantan atlet renang kenamaan Indonesia, Richard Sam Bera pun menuangkan pendapatnya pada akun twitter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *