Menjelang Pemilu, Pahami 5 Istilah Politik Ini Agar Tidak Salah Kaprah

Kata Politik (Foto: Pixabay)

Semakin dekat dengan Pemilu, maka semakin sering pula kita mendengar istilah-istilah asing yang berkaitan dengan politik. Agar nggak salah kaprah, ada baiknya kita mempelajari istilah-istilah politik. Dari sekian banyak istilah, ini dia lima kata yang paling umum dan wajib diketahui.

1. Koalisi

Ilustrasi jabat tangan (Foto: Pixabay)

Saat menonton tayangan di televisi atau pun membaca artikel di portal berita, kita pasti sering menemukan headline yang berbunyi, “Partai ABC telah resmi bergabung dengan koalisi Indonesia Jaya bersama Partai FGH,” Dari kalimat tersebut, apakah kamu sudah memiliki sedikit gambaran mengenai makna kata koalisi?

Berdasarkan KBBI, arti kata koalisi adalah ‘kerja sama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dalam parlemen’. Jika dijabarkan lebih lanjut, kerja sama yang dimaksud adalah perjanjian antara individu atau kelompok di mana mereka bekerja sama, untuk mencapai kepentingan masing-masing.

Dalam dunia politik Indonesia, koalisi biasanya berlaku saat sebuah partai politik berniat mengusung capres dan cawapres pada Pemilu. Hal ini disebabkan karena umumnya, jumlah suara pemilih dalam suatu partai politik tidak akan cukup untuk memenuhi batas minimum suara yang diperlukan dalam mengusung pasangan capres dan cawapres.

2. Elektabilitas

Pilih Ya atau Tidak (Foto: Pixabay)

Kata ini sepertinya menjadi kata yang paling sering disebut menjelang Pemilu yang semakin dekat. “Elektabilitas pasangan calon walikota dan wakil walikota A mengalami peningkatan yang signifikan, dibanding pasangan calon walikota dan wakil walikota B” Begitu kira-kira kalimat yang sering kita dengar.

Memang apa sih elektabilitas itu? Elektabilitas ialah tingkat keterpilihan terhadap sesuatu. Elektabilitas bisa diterapkan kepada barang, jasa, maupun badan atau partai. Jika elektabilitas partai tinggi, berarti partai tersebut memiliki daya pilih yang tinggi.

Partai politik biasanya berlomba-lomba meningkatkan elektabilitas masing-masing paslon, dengan menjaga dan memenuhi kriteria keterpilihan. Perlu diinga juga bahwa elektabilitas berbeda dengan popularitas. Popularitas adalah tingkat kepopuleran di mata masyarakat, yang meskipun paslon populer tapi ia belum tentu dipilih.

3. Elektoral

Kotak Suara (Foto: pexels)

Kita pasti sering mendengar pengamat politik menyebutkan kata ini saat sedang memaparkan pandangannya mengenai Pemilu. Elektoral sendiri berasal dari bahasa Inggris “Election” yang artinya pemilihan, dan erat kaitannya dengan bentuk partisipasi politik.

Contoh yang dimaksud adalah partisipasi politik elektoral yang berarti partisipasi politik yang dilihat dari keterlibatan masyarakat. Partisipasi elektoral sendiri dibedakan atas dua kelompok yaitu partisipasi politik elektoral konvensional (hadir di Pemilu) dan non konvensional (menjadi relawan).

4. Petahana

Orasi politik (Foto: Pixabay)

Petahana berasal dari kata “tahana”, yang berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan. Dalam politik istilah ini dimaksudkan bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat. Istilah ini biasanya digunakan dalam kaitannya dengan Pemilu, di mana sering terjadi persaingan antara kandidat petahana dan non petahana.

Sebagai contoh, pada Pilpres 2019 ini, Jokowi adalah petahana, karena ialah presiden yang sedang menjabat pada saat pemilihan umum untuk pelaksanaan pemilihan presiden berikutnya.

Dalam persaingan kursi-terbuka (di mana sang petahana tidak mencalonkan diri), istilah “petahana” terkadang digunakan untuk merujuk kepada kandidat dari partai yang masih memegang jabatan kekuasaan.

5. Oposisi

Perdebatan dua kubu (Foto: Pexels)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata oposisi didefinisikan dalam dua bidang yang berbeda. Pada dunia politik, arti kata oposisi dimaknai sebagai ‘partai penentang di dewan perwakilan dan sebagainya yang menentang dan mengkritik pendapat atau kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa’.

Sementara dalam bidang linguistik, arti kata oposisi dimaknai sebagai ‘pertentangan antara dua unsur bahasa untuk memperlihatkan perbedaan arti’.

Dari kedua arti kata oposisi menurut KBBI, arti kata oposisi dalam pemaknaan linguistik nampaknya kurang akrab di telinga masyarakat Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia lebih sering mengaitkan arti kata oposisi dengan dunia politik.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *