Studi Menyebutkan: Generasi Milenials Lebih Suka dengan Musik Lawas

Kaaet pita (Foto: Pexels)

Baru-baru ini ada sebuah penelitian yang menguji mengenai selera musik generasi milenials. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata musik era terdahulu jauh lebih berkesan bagi mereka. Jika kamu termasuk dengan kelompok penyuka musik lawas, tandanya penelitian ini berhubungan denganmu.

Para ilmuan dari Universitas New York, mengumpulkan 643 peserta dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun, untuk menguji kemampuan mereka mengenali lagu hits dari berbagai dekade. Hasilnya terbilang mengejutkan, karena musik yang dirilis pada tahun 1960 – 1999 jauh lebih diingat, dibanding lagu-lagu terbaru dari tahun 2000 – 2015.

Hal tersebut seolah mendukung pernyataan mengenai era keemasan musik populer, yang berlangsung dari tahun 1960-an hingga 1990-an. Menurut para akademisi, lagu-lagu di era tersebut terbukti jauh lebih berkesan dibanding lagu-lagu yang rilis pada abad ke-21.

Peneliti utama Dr Pascal Wallisch, dari Universitas New York, Amerika Serikat, mengatakan: ” Tahun 1960-an hingga 1990-an adalah waktu yang istimewa bagi dunia musik, terlihat dari masih terus diingatnya lagu dari era tersebut, bahkan oleh generasi milenials saat ini.”

“Selama periode ini, lagu yang menduduki tangga lagu Billboard lebih bervariasi dibanding tahun 2000 hingga 2015, atau 1940-an dan 1950-an,” Kata para ilmuwan dikutip dari Metro.

Beberapa lagu yang dijadikan sampel dalam penelitian di antaranya,  ‘When a Man Loves a Woman’ oleh Percy Sledge (1966), ‘Baby Come Back’ oleh Player (1977) dan ‘The Tide is High’ oleh Blondie (1980).

Meskipun begitu, ada juga beberapa lagu yang nggak diingat sama sekali, seperti ‘Knock Three Times’ oleh Dawn (1970), ‘I’m Sorry’ oleh John Denver (1975) dan ‘Truly’ oleh Lionel Richie (1982).

Lagu-lagu yang dipilih untuk penelitian ini adalah lagu yang mencapai posisi puncak di Billboard Top 100 di tahun 1940 dan 1957, serta lagu yang menduduki slot teratas di Billboard ‘Hot 100’ dari tahun 1958 hingga 2015. Setiap peserta disajikan kutipan singkat berisi pilihan acak, dan mereka diminta untuk mengatakan apakah mereka mengenalinya dari 152 lagu.

Hasil penelitian yang didapat adalah, sebenarnya peserta lebih mengingat musik dari tahun 2000 hingga 2015, tetapi mereka tidak bisa menyebutkan nama artis dan judul dari lagunya. Berlawanan dengan ingatan mereka akan musik dari tahun 1960 – 1999 yang jauh lebih kuat, karena mereka mampu mengenali artis dan judul dengan akurasi yang stabil.

Jadi, apa sih kesimpulan dari hasil penelitian tersebut?

Bisa saja dikarenakan lagu-lagu terdahulu yang memiliki musik lebih khas dibanding lagu-lagu saat ini yang cenderung homogen. Jika mengingat faktor tersebut, maka bukan tidak mungkin tata produksi turut memengaruhi sebuah lagu, musik dari tahun 1967 tentunya punya atribut yang berbeda dari lagu yang diproduksi tahun 2007.

Apakah hal ini juga dipengaruhi dengan maraknya aplikasi streaming? bisa jadi, karena peneliti menemukan korelasi antara peluang dikenalinya sebuah lagu dengan jumlah pendengar Spotify-nya. Jika begitu, lagu-lagu baru yang nggak dikenal akan sulit membuat kesan bagi pendengar baru mereka.

Jangan terlalu terpaku dengan hasil penelitian ini, karena penelitian ini berkaitan dengan pengenalan sebuah lagu, bukan preferensinya. Bukan berarti generasi milenials nggak suka dengan musik dari tahun era terkini, lho, tapi bisa jadi preferensi musik mereka yang berbeda.

Dikutip dari A Journal of Musical Things, perlu diingat bahwa sangat tidak adil untuk membandingkan musik hari ini dengan materi yang telah melewati 60 tahun penyaringan. Hanya yang terbaik dari yang terbaik yang akan diingat hingga sekarang.

Selain itu, jika kaum milenials mendengarkan, misalnya, Queen, mereka cenderung hanya mendengarkan lagu-lagu hits-nya saja, dan tidak spesifik menikmati keseluruhan albumnya.

Bagaimana menurutmu, apakah setuju dengan penelitian tersebut?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *